Superparenting

Bagaimana menjadi Orangtua yang bermanfaat bagi Anak

NLP for Parenting #1 State Anak-anak = Knowing Nothing State

June 12th, 2007 by Adi Putera Widjaja

Susi curhat dengan temannya Sasa bagaimana anaknya susah sekali diatur. “Bayang ín, Sa. Mainan baru yang harganya begitu mahal sekarang bentuknya sudah tidak karuan lagi. Kemarin pajangan kesayangan papanya hancur karena Si Doni menarik taplak yang ada di bawah pajangan. Padahal saya sudah peringatkan untuk tidak menarik taplaknya. Eh, malah makin ditarik.”

Karena sudah tidak sabar, seringkali berakhir dengan kemarahan yang diikuti dengan pemukulan. Susi sebetulnya sama sekali tidak ada keinginan untuk marah apalagi memukul anaknya, tetapi entah mengapa kadang emosi lebih menguasai dirinya. Susi semakin tidak mengerti mengapa anaknya selalu mengacak-gacak dan merusak benda-benda di rumah padahal sudah diingatkan berkali-kali. Andai saja Susi mengerti “State” anak-anak, kejadian di atas mungkin dapat disikapi lebih baik.

Apa itu State?

Sebagian besar orang yang belum terbiasa dengan istilah-istilah dalam NLP dan Hypnosis sering sekali rancu dengan kata “State”. Masyarakat kebanyakan mengartikan sebagai negara bagian. Sedangkan kata “State” yang saya maksudkan tidak ada hubungannya dengan negara bagian manapun di muka bumi ini.

State dalam NLP adalah suatu keadaan di mana pikiran, perasaan dan fisiologi tubuh yang saling berhubungan membentuk kondisi dalam diri Anda. Misalnya, state Anda dalam keadaan bersemangat tentu akan berbeda sekali dengan state Anda ketika dalam keadaan frustasi. Mari kita kita lihat contoh perbedaannya.

State Bersemangat
Pikirkan suatu kejadian di mana Anda mendapatkan keberhasilan, umumnya perasaan Anda akan senang, biasanya fisiologi tubuh Anda akan tegak dan gagah.

State Frustasi
Pikirkan suatu kejadian di mana Anda menemui kegagalan, umumnya perasaan Anda akan sedih, tanpa disadari fisiologi tubuh Anda akan loyo dan cenderung agak bungkuk.

State Anak-anak = Knowing Nothing State

Menjelaskan keadaan Knowing Nothing State yang paling sederhana adalah dengan membandingkan state orangtua dengan state anak-anak. Mari kita bayangkan bersama dua buah adegan bermain bersama; katakanlah bermain alat musik gendang. Adegan pertama, orangtua yang bermain gendang dengan anaknya. Adegan kedua, anak yang bermain gendang dengan sesama anak-anak. Kira-kira mana yang lebih seru? Anak dengan orangtuanya? Ataukah anak dengan sesama anak-anak?

Anak-anak dapat menemukan cara bagaimana memainkan gendang lebih dari satu cara. Lebih dari sekedar alat musik. Sedangkan orangtua kecenderungannya menganggap gendang tidak lebih dari sebuah alat musik. Jadi cara memainkan hanya satu cara yaitu dengan memukul-mukul permukaannya.

Anak-anak selalu menganggap semua benda yang ada di sekitarnya adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari. Cara untuk mempelajarinya adalah dengan “memainkannya”. Sehingga tidaklah mengherankan; anak-anak jika diberi mainan baru dalam waktu kurang dari satu hari sudah berubah bentuk menjadi beberapa “mainan baru”. Mengapa demikian? Karena anak menemukan banyak cara untuk memainkannya. Oleh orangtua; tindakan ini disamakan dengan “merusak”, sedangkan pada anak tindakan yang sama adalah “keingintahuan”. Alangkah indahnya jika pada orangtua; tindakan yang diartikan sebagai “merusak” tadi diganti menjadi “keingintahuan”, tentu Susi tidak perlu menjadi emosi lagi kan?

Tips : Pahami bahwa state anak-anak adalah keadaan untuk belajar yang sempurna karena dalam pikiran mereka belum ada aturan-aturan; baik atau buruk, salah atau benar. Jadi jika anak sedang memegang benda-benda yang dapat membahayakan dirinya segera ganti dengan benda yang lebih aman, pindahkan ke tempat yang lebih aman dan biarkan dia tetap bermain.

Pertanyaan : Apa yang biasanya dilakukan oleh orangtua jika melihat anaknya bermain dengan gunting?

Posted in Parenting

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.