NLP for Parenting #8 Kisah Tulisan Jelek Sang Murid - Perceptual Positions
Waktu itu sedang dibagikan PR oleh Ibu Guru Sarina yang cantik. Suasana kelas VI B pun hening dan tertib. Masing-masing anak bergantian maju ke depan kelas mengambil buku PR mereka.
Tiba-tiba Ibu Guru Sarina berkata,”Ini buku siapa, ya? Oh, bukunya Riska. Aduh, Riska tulisan kamu kok jelek amat, ya? Anak laki-laki saja tulisannya lebih bagus dari kamu. Masa tulisan kamu seperti ini? Coba diusahakan menulis lebih bagus dari ini.” Sejenak terdengar tawa kecil dari beberapa temannya.
Riska yang diam-diam mengidolakan ibu gurunya yang pintar, cantik dan anggun itu tersentak kaget. Sejenak kepalanya jadi berkunang-kunang dan butir-butir peluh mengalir deras dari dahinya. Berpuluh-puluh pertanyaan berputar-putar di atas kepalanya yang pening seketika begitu mendengar komentar lantang Bu Guru Sarina di depan kelas.
“Kok, Ibu Sarina tega bicara keras-keras begitu di depan semua teman-temanku. Mengapa ia tidak diam-diam memberitahukan padaku sepulang sekolah, ketika teman-teman lain sudah tidak ada?”
“Kok, baru sekarang sesudah tahun kedua belajar, Ibu Sarina menyadari bentuk tulisanku…”
“Kenapa tulisanku begitu jelek? Apa yang harus kulakukan supaya tulisanku bagus?”
“Mengapa anak lain semua tulisannya bagus-bagus, buktinya dari 50 anak kelas ini hanya aku yg disebutkan keras-keras di depan kelas…”
Sekilas dari sudut matanya melihat beberapa anak sepertinya sedang menertawakan dirinya. Seluruh sisa pelajaran hari itu sudah tidak terdengar lagi di telinga kecil Riska. Ketika akhirnya bel pulang sekolah berbunyi dan doa pulang selesai diucapkan, Riska bergegas keluar dari ruang kelas.
Sepanjang perjalanan pulang, ia merasa amat sedih dan berkecil hati. Wajah Ibu Guru Sarina yang begitu ia idolakan dan teman-teman sekelas yang mencibir di kepalanya berganti-ganti memenuhi kepalanya.
Setiba di rumah, ia segera melesat naik ke kamarnya dan duduk di meja belajar kecilnya. Lalu, menarik sebuah buku. Entah di buku bekas apa, ia mulai menulis di halaman belakang itu. Ia menulis apa saja yang bisa ia tulis dengan sebaik-baiknya dan serapi-rapinya. Tapi apa daya, tulisannya tetap saja tidak bisa seindah tulisan Merina yang indah ataupun Glenn yang begitu rapi dan teratur. Karena sangat marah dan kecewa, Riska mencoret-coret seluruh tulisan tangan yang sudah dilatihnya tadi sambil terus menangis.
Tidak pernah ia ketahui; mungkin juga Ibu Sarina, bahwa bentuk tulisan tangan seseorang merupakan ciri dari orang tersebut dan sangat khas. Sulit sekali untuk merubahnya lagi jika sudah terbentuk.
Yang ia tahu, ia merasa bersalah atas tulisannya yang jelek. Ia begitu kecewa, marah dan membenci dirinya sendiri. Juga Ibu Sarina; ibu guru yang selalu dihormati dan diidolakannya.
Perceptul Positions : Kunci memahami orang lain
Kisah di atas bukanlah sebuah cerita rekaan melainkan sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi puluhan tahun yang lalu terhadap orang yang sangat saya kenal. Dan kisah-kisah yang mirip seperti ini masih saja terjadi hingga hari ini dan terus melukai perasaan banyak anak di seluruh negeri ini. Akibat dari perasaan luka tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan boleh menjadi sebuah believed system bagi dirinya. Dapat menjadi believed system yang bermanfaat atau malah menjadi sesuatu yang mensabotase dirinya untuk maju.
Selaku orangtua, kadang kita ingin melindungi ataupun memberikan yang terbaik bagi putera-puteri tercinta, hanya sayangnya maksud yang baik tersebut malah seringkali diterjemahkan sebaliknya oleh anak-anak kita.
Himbauan untuk rajin dan giat belajar dari orangtua diterjemahkan menjadi pengekangan dan pengukungan oleh anak-anak. Kritikan atau masukan tentang penampilan anak di atas panggung diterjemahan oleh anak sebagai bentuk tidak adanya penghargaan atas usaha anak.
Dalam banyak kesempatan, baik di seminar ataupun pelatihan tentang pengasuhan anak, saya selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dan seringkali pula saya tidak mau memberikan jawaban secara langsung, melainkan saya persilahkan sang penanya untuk ke depan forum dan meminta seorang sukarelawan lainnya untuk menemani. Apa yang kami lakukan di depan forum? Berlatih Perceptual Positions!
Caranya :
1. Kami berbagi peran sebagai Orang ke-1, Orang ke-2 dan Orang ke-3.
2. Contoh : Sang Penanya sebagai orang pertama (Orangtua), Sang Sukarelawan sebagai orang kedua (Anak) dan saya sebagai orang ketiga (Pengamat)
3. Saya meminta Sang Penanya memperlihatkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan anaknya untuk sebuah masalah “X” dan menunjukan juga bagaimana anaknya merespon terhadap gaya komunikasinya.
4. Sang Sukarelawan (Orang ke-2) memperhatikan dan meniru gaya anaknya merespon sampai semirip mungkin. Sang Penanya yang akan memberikan feedback agar kepada Orang ke-2 agar dapat meniru gaya komunikasi anaknya.
5. Setelah sudah sesuai, maka kami masuk ke sesi pertama : memainkan drama komunikasi Orangtua (Orang ke-1) dengan Anak (Orang ke-2). Saya sebagai Orang ke-3 hanya bertugas mengamati dan memberikan feedback agar drama menjadi tampak lebih nyata.
6. Sesi kedua, kami semua bertukar peran. Orang ke-2 kali ini menjadi Orang ke-1 (Orangtua), Saya menjadi Orang ke-2 (Anak), lalu Orang ke-1 menjadi Orang ke-3 (Pengamat). Lalu kami ulangi lagi drama dengan jalan cerita yang sama persis seperti sesi pertama. Orang ke-3 akan memberikan feedback jika masih ada yang belum sesuai.
7. Sesi ketiga, kembali semua orang bertukar peran ke peran yang belum diperankan sebelumnya.
Walau standar prosedur yang lengkap adalah sampai sesi ketiga, tetapi kadang baru sampai pada sesi kedua saja (jika semua syarat dan ketentuan dilakukan dengan benar. Red.) Sang Penanya akan tercenung dan langsung membuat pernyataan bahwa dia akan belajar untuk lebih memahami anaknya. Yang lebih ajaib lagi adalah para penonton yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh jalannya latihan; pada sesi pertama saja sudah banyak yang memahami apa yang sedang terjadi.
Akhirnya pada sesi penutupan dalam setiap pelatihan kami diambil alih oleh para penonton yang berlomba-lomba ingin sharing. Hidup mendadak menjadi lebih indah daripada biasanya….
Pertanyaan :
Dalam berbagai kesempatan berkomunikasi baik dengan orang lain; anak ataupun dengan pasangan. Pernahkan kita mencoba memahami makna apa yang ingin mereka sampaikan? Selamat berlatih Perceptual Positions!
Posted in Parenting

