NLP for Parenting #3 Awas Smack Down! = Waspadai pola modelling anak-anak!
Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya.
Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan tapi pasti, tayangan kekerasan mulai berkurang di semua TV swasta. Ada yang mengurangi jam tayang, ada yang memindahkan jam tayang, ada pula yang sama sekali menghilangkannya. Telah terbayang, penghargaan yang akan diterimanya besok lusa atas kegigihan dan konsistensinya melawan kekerasan pada anak-anak.
Tiba-tiba, di tengah kemacetan; pandangan matanya terantuk pada sekumpulan bocah-bocah yang tengah mengerubungi sesuatu. Sepertinya sebuah perkelahian. Ada yang aneh. Mengapa bocah-bocah itu begitu gegap gempita dan ceria?
Terkadang mereka ikut berteriak dan kadang beberapa di antara mereka menirukan gerakan berkelahi. Dinar merasa penasaran dan ketika mobilnya bergerak mendekati kerumunan di pinggir jalan itu, ia melihat penjual VCD bajakan sedang tengah memutar film Smack-down! Ia terhenyak. Sejenak kepalanya terasa pusing.
Mengapa masih ada saja yang melakukan itu? Padahal tayangannya sudah sangat berkurang di televisi. Malah sekarang muncul di jalanan.
Belum hilang rasa pusingnya, ketika melewati lampu merah, ia terkena macet lagi dan mau tidak mau, kembali ia harus melihat pemandangan “menyeramkan” lagi : kumpulan anak-anak di depan penjual games playstation yg judul & gambarnya lagi-lagi tentang smack-down.
Dinar merasa begitu lemas. Ia tidak mau melihat lagi. Ada rasa sakit. Seperti dikhianati. Ia memutuskan memacu mobilnya cepat-cepat. Ia ingin cepat tiba di rumah dan melihat putera-puteranya yang manis dan santun memeluk dan menyambutnya.
Tiba di ujung gang besar, Dinar mendengus kesal. Jalan ditutup. Entah ada apa. Sekilas ia melihat tumpukan janur yang belum dijalin.
“Mungkin ada yang mau menikah”.
Ia bergegas mengambil laptop dan tas kerjanya. Lalu berjalan cepat menuju rumahnya. Ada sebuah rumah yang tampak ramai. Pagarnya terbuka dan di depan pintu dipenuhi sandal-sandal kecil.
“Oh, apakah perpustakaan mini? Kemarin belum ada”.
Penasaran, ia langkahkan kaki ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia akan mengajak Bayu dan Dimas ke situ besok. Setibanya di dalam, lagi-lagi ia terkesiap. Bukan perpustakaan mini yang rapi dan tenang. Tapi sebuah tempat penyewaan playstation yang gaduh dan riuh. Ada anak yang bermain, ada yang hanya menonton. Tujuh dari sepuluh pemain memilih film permainan gulat : smack-down!
Kali ini Dinar tak tahan lagi. “Bencana” itu tidak menjauh. Malah kini makin mendekati anak-anaknya. Hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Ia mundur dan menutup pintu dengan lemah. Langkahnya gontai, matanya basah. Apa lagi yang harus kulakukan? Berminggu-minggu kuhabiskan waktu berkampanye, melobby sana sini, berbicara di seminar-seminar besar dan kecil. Bayu dan Dimas pun terpaksa harus merelakan waktu mereka bersama bundanya banyak tersita.
“Demi Bayu, Dimas dan semua anak Indonesia”, begitu selalu kata Dinar.
Kedua jagoannya bisa diberi pengertian, tapi Mas Danu; suaminya sudah beberapa kali mengultimatumnya, “Ini pertama dan terakhir kamu sesibuk ini. Lagipula, apa sih salahnya dengan gulat smack-down? Kan tidak semua orang jadi korban. Menurutku malah bagus, anak laki-laki harus nonton, supaya tidak jadi gemulai. Lagipula, apa sih yang membuat kamu begitu yakin kalau kamu bisa mengubah keadaan?”
Sesulit inikah untuk melindungi buah hati tercinta Anda?
Modelling
Apa yang seketika muncul dalam benak Anda jika mendengar kata Modelling? Ibu-ibu membayangkan wanita bertubuh langsing yang selalu diidam-idamkan. Mungkin sebagian kaum pria langsung terbayang tayangan Fashion TV. Kalau Anda, apa yang muncul dalam benak?
Modelling yang saya maksudkan di sini tidak ada hubungan dengan dunia fashion ataupun bintang iklan manapun. Modelling yang maksud di sini adalah kemampuan meniru.
Anda yang telah memiliki anak tentu masih ingat ketika awalnya mengajari mereka berbicara. Walaupun anak Anda mengeluarkan suara yang jauh daripada mirip “Papa” atau “Mama”, Anda tetap konsisten dengan “Pa.. Pa..” atau “Ma.. Ma..” berulang kali tanpa bosan-bosannya. Sampai ketika anak Anda berhasil menyebutkan dengan benar; berarti anak Anda sudah berhasil memodel Anda.
Berbeda dengan pikiran orang dewasa yang daya kritisnya sudah matang, pikiran anak-anak hampir selalu dalam keadaan imajinatif. Apa pun yang mereka lihat, dengar dan rasakan akan cepat sekali ditiru atau dimodel. (baca juga NLP for Parenting #1)
Bayangkan bila mereka menonton tayangan di televisi tanpa didampingi oleh orang dewasa di sampingnya. Apa jadinya tontonan kekerasan yang sebetulnya ditujukan untuk hiburan orang dewasa yang sebetulnya penuh dengan trik muslihat kemudian dianggap benar oleh anak-anak.
Ketika mereka dilarang meniru adegan tersebut malah menimbulkan tanda tanya bagi anak-anak; bagi mereka tindakan tersebut dianggap sebagai bermain. “Toh, di televisi orang-orangnya masih dapat bangun dan berteriak-teriak lagi. Kenapa sih papa mama selalu menghalangi kesenangan saya”, begitu yang ada dalam benak anak-anak.
Stasiun televisi sudah memasang tanda BO, bahkan kini ditulis “Bimbingan Orangtua” pada sudut televisi Anda. Tanda itu bukanlah HIASAN semata,melainkan PERINGATAN!
Tips :
Dampingilah selalu buah hati dalam setiap tontonannya agar mereka mendapatkan informasi yang benar dari Anda; selaku orangtuanya. Penjelasan dari Anda seperti layaknya sebuah program antivirus yang melindungi komputer dari serangan virus. Sama halnya dengan antivirus yang harus diupdate setiap saat. Mendampingi anak menonton pun harus dilakukan sesering mungkin, bukan hanya sesaat.
Pertanyaan :
Berapa jam sehari anak Anda duduk di depan televisi? Jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat?
Posted in Parenting

