<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Superparenting</title>
	<atom:link href="http://superparenting.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://superparenting.org</link>
	<description>Bagaimana menjadi Orangtua yang bermanfaat bagi Anak</description>
	<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 23:55:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>NLP for Parenting #12 : Perceptual Positions – Benarkan wanita itu complicated dan pria itu simple?</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=66</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=66#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 23:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Neuro-Lingusitic Programming]]></category>

		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[BUKU HARIAN ISTERI :
Malam Minggu, Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dengan teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.
Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ke tempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">BUKU HARIAN ISTERI </span></strong><span><strong><span lang="IN">:</span></strong></span></p>
<p><em><span lang="IN">Malam</span></em><span lang="IN"> <em>Minggu</em>, <em>Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dengan teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.</em></span><strong><em><span lang="IN"></span></em></strong></p>
<p><em><span lang="IN">Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ke tempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan apa yang salah – dia jawab, “Tak ada”. Aku tanyakan apakah kesalahanku yang membuatnya kesal. Dia bilang hal ini tak ada kaitannya dengan aku dan minta aku tidak perlu khawatir.</span></em></p>
<p><em><span lang="IN">Dalam perjalanan pulang, aku bilang aku mencintainya. Dia cuma tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tak mampu menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis pikir kenapa dia tak menjawab, “Aku cinta kamu juga”. Sesampainya di rumah, aku merasa kehilangan dia, dan seolah-olah dia tak menghendaki aku lagi. Dia hanya duduk dan nonton di depan TV; dia terlihat jauh dan makin menghilang…..</span></em></p>
<p><em><span lang="IN">Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, kuputuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hidupku serasa kiamat…</span></em></p>
<p><strong><span lang="IN">BUKU HARIAN SUAMI</span></strong><span><strong><span lang="IN"> </span></strong></span><span lang="IN">: </span></p>
<p><em><span lang="IN">Malam</span></em><span lang="IN"> <em>Minggu</em>, <em>SIALAANNN!!!!</em> <em>M.U. kalah 0 - 1.</em></span></p>
<p><span lang="IN">Umumnya orang beranggapan bahwa cara berpikir wanita lebih rumit daripada pria. Sehingga konon sebuah urusan kecil dapat menjadi besar karena cara berpikir yang berbeda tersebut. Tetapi benarkan demikian? Jika Anda mengerti sebuah perangkat NLP yang bernama <em>Perceptual Positions</em> sebaiknya Anda jangan terburu-buru membuat kesimpulan dahulu.</span></p>
<p><strong><span lang="IN"><span id="more-66"></span>Apa itu Perceptual Positions?</span></strong></p>
<p><span lang="IN">Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam memandang dunia. Pribadi-pribadi yang mampu memahami cara pandang dunia orang lain biasanya lebih memiliki sifat empati dan terhindar dari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. </span></p>
<p><span lang="IN">Dalam kerangka berpikir NLP; <em>Perceptual Positions</em> didefenisikan sebagai kemampuan untuk mendapatkan pemahaman baru dalam melihat suatu kejadian dari sudut pandang yang berbeda.</span></p>
<p><span lang="IN">Misalnya; dari cerita di atas Si Istri mungkin tidak perlu sampai harus bersedih dan menangis sampai tertidur jika mampu “membaca” isi buku harian suaminya pada hari tersebut. Mungkin malah sebaliknya yang terjadi. Dapat saja ia tersenyum simpul dengan sikap suaminya yang berubah hanya karena tim bola kesayangannya kalah dan turut bersimpati atas kejadian tersebut.</span></p>
<p><span lang="IN">Sebaliknya, Si Suami mungkin saja akan merasa bersalah atas sikapnya yang membuat istrinya menjadi sedih dan menangis hingga tertidur hanya gara-gara kesebelasan favoritnya mengalami kekalahan. </span></p>
<p><span lang="IN">Alangkah indahnya sebuah keluarga, jika perbedaan pendapat antar pasangan dapat diselesaikan dan </span><span>di</span><span lang="IN">hindarkan jika masing-masing memiliki “kemampuan” untuk belajar saling memahami satu dengan lainnya. Sehingga anak-anak tidak perlu jadi stres dan berperilaku aneh </span><span>di rumah ataupun di sekolah </span><span lang="IN">sebagai wujud protes kepada kedua orangtuanya yang se</span><span>rin</span><span lang="IN">g ribut.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=66</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #11 Reframing - Mendekatkan yang jauh, Menjauhkan yang dekat</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=55</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=55#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 11:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Neuro-Lingusitic Programming]]></category>

		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat ibukota saat ini kerap berhadapan dengan kemacetan di jalanan yang tampaknya makin parah dari hari ke hari. Kadang  sebuah truk yang mogok di tepi jalan dapat menyebabkan kemacetan hingga berkilo-kilometer jauhnya.  Pada gilirannya hal ini  tentu saja membuat waktu tempuh jadi semakin lama. Hebatnya, ini terjadi di jalan tol  yang berbayar dan katanya bebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masyarakat ibukota saat ini kerap berhadapan dengan kemacetan di jalanan yang tampaknya makin parah dari hari ke hari. Kadang  sebuah truk yang mogok di tepi jalan dapat menyebabkan kemacetan hingga berkilo-kilometer jauhnya.  Pada gilirannya hal ini  tentu saja membuat waktu tempuh jadi semakin lama. Hebatnya, ini terjadi di jalan tol  yang berbayar dan katanya bebas hambatan. Terbayangkah  apa jadinya bila kecelakaan tabrakan beruntun yang terjadi?  Sangat mungkin waktu tempuh yang Anda perlukan dari rumah ke kantor atau sebaliknya malah lebih lama daripada bermobil dari Jakarta ke Bandung.</p>
<p>Bayangkan lagi jika anda adalah seorang ayah atau ibu yang sedang pulang kantor dan sudah tidak sabar ingin bercengkerama dengan anak-anak anda di rumah. Kira-kira bagaimana suasana hati anda saat itu?</p>
<p>Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan Anda.  Tetapi jika anda menggunakan kerangka berpikir NLP, maka anda akan ditawari seperangkat alat untuk menghadapi berbagai situasi yang kurang nyaman di atas.  Alat tersebut bernama <em>Reframing</em>.</p>
<p><strong><span id="more-55"></span>Apa itu <em>Reframing</em>?</strong></p>
<p>Sebuah kejadian hanyalah sebuah kejadian sampai seorang manusia meletakkan sebuah bingkai (atau kerangka berpikir) atas kejadian tersebut sehingga memberikan arti atau makna pada peristiwa tersebut.  Sehingga, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki lebih dari satu makna, ini tergantung dari bingkai apa yang Anda gunakan.</p>
<p>Dapat digambarkan dengan rumus seperti berikut:</p>
<p>Kejadian + Bingkai/Kerangka Berpikir = Arti/Makna</p>
<p>Misalkan; kemacetan jalanan di Jakarta hanyalah sebuah pemandangan yang melukiskan berbagai mobil yang seolah-olah diparkir di tengah jalanan dalam keadaan mesin hidup. Kemudian seorang pakar ekonomi memberi bingkai efisiensi terhadap peristiwa tersebut, maka pemadangan kemacetan tersebut memiliki makna pemborosan yang sangat parah. Lalu seorang pedagang makanan memberi arti yang lain lagi, yaitu kesempatan menjajakan makanan kepada para penumpang yang terjebak dalam kemacetan.</p>
<p>Sementara Anda yang tengah candu dengan berbagai media jejaring sosial di dunia maya; atau Anda yang memiliki <em>BlackBerry</em>; Anda akan mengatakan justru dengan situasi jalanan yang macet tersebut membuat anda berkesempatan untuk tetap dapat membaca, menulis update, dan membalas status account <em>facebook</em> atau <em>twitter</em> Anda; serta melakukan BBM ke teman-teman anda. Jadi mengapa harus diributkan?</p>
<p>Lalu, siapa yang benar? <em>Reframing</em> tidak membahas tentang benar atau salah.<em>Reframing</em> hanyalah sebuah alat bantu yang dapat menolong Anda membebaskan pikiran Anda dari hal-hal yang membuat Anda menjadi tidak berdaya.</p>
<p><em>By the way</em>, bicara tentang <em>BlackBerry</em> alias BB. Isu pemblokiran jasanya juga sedang hangat-hangatnya di negeri ini. Umumnya, para operator telepon di sebuah negara yang memegang data mengenai pelanggan, bukan pembuat perangkat telepon seluler. Tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku bagi Research In Motion (RIM); perusahaan asal Kanada yang menciptakan perangkat komunikasi <em>BlackBerry</em>.</p>
<p>Karena tidak bersedia memberikan akses kepada Pemerintah UEA ke server pengguna BB, maka terjadilah pemblokiran jasa BB di negara tersebut. Alasannya, Pemerintah UEA khawatir jika data tersebut disalahgunakan pihak lain.</p>
<p>Jika Anda adalah seorang anak yang sudah sedari sore menanti-nantikan orangtua kembali dari kantor; karena ada kisah menarik di sekolah yang ingin diceritakan. Dan ketika mereka tiba di rumah, Anda malah melihat mereka asyik sendiri dengan perangkat BB masing-masing, apakah Anda kemudian akan membuat group di<em>Facebook</em> bertajuk “Dukung pemblokiran BB”?</p>
<p>Bila memakai perangkat <em>Reframing</em>; bagaimana Anda “membingkai ulang” hal ini? Apakah BB mendekatkan yang jauh? Atau BB malah menjauhkan yang dekat?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=55</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #10 Pengasuh menjadi Jimat Anak. How? Why?</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=48</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 07:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<category><![CDATA[Neuro-Lingusitic Programming]]></category>

		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[Pengasuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya ke saya, “Minta tipsnya, dong hal apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Jakarta di hari Senin pagi?”
Karena pertanyaan ini, saya jadi mulai agak mengerti dengan tag line “I Hate Monday”. Ternyata sulit juga mencari hal yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin pagi yang dapat diterima sahabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya ke saya, “Minta tipsnya, dong hal apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Jakarta di hari Senin pagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Karena pertanyaan ini, s</span><span lang="IN">aya jadi mulai agak mengerti dengan tag line “<em>I Hate Monday</em>”. Ternyata sulit juga mencari hal yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin pagi yang dapat diterima sahabat saya. Apalagi ketika saya mengatakan</span><span>,</span><span> </span><span>“Bergaul dan bercengkerama dengan anak-anak usia batita di kelas.” Loh?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap Senin pagi sejak bulan lalu ada ritual baru bagi saya yaitu nongkrong bareng dengan anak bayi baru gede. Berada dalam lingkungan ini serasa kembali lagi ke masa kecil. Mengamati bagaimana tingkah pola mereka seperti dihadapkan kembali pada pelajaran tentang kejujuran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada hari itu ada sebuah kejadian yang sangat menarik dan membuat saya bertanya-tanya. Ketika semua anak-anak yang baru memiliki pengalaman pertama masuk sekolah sudah terbiasa dengan lingkungan barunya, mengapa masih tersisa satu anak yang tetap menangis? Tetapi bila ada pengasuh di sampingnya, anak ini menjadi begitu tenang. Ada apa gerangan?</span></p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Bedakan How, “Why” dan ‘Why’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua kata ini jika diletakan pada awal sebuah kalimat tanya dapat memberikan jawaban yang berakhir pada sebuah cara memecahkan solusi, atau alasan-alasan yang tidak berujung pangkal atau… sebuah awal dari sebab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya masih ingat ketika masa-masa awal belajar NLP. Saya sangat tergila-gila berburu dan mengoleksi jurus-jurus metode dan teknik NLP. Jika ketemu kasus, kalimat tanya yang diajarkan untuk digunakan pertama sekali adalah How. Bagaimana CARAnya mengatasi kasus ini? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Karena metode dan teknik NLP yang begitu asyik dan efektif, sampai-sampai tidak terpikirkan untuk mencari tahu ‘Why’ nya memakai metode dan teknik untuk kasus ini atau kasus itu. Ditambah lagi ada beberapa jurus terapi yang seolah mengharamkan menanyakan “Why” pada pasien. Dan ini adalah jurus pamukas saya, yang selain membuat pasien merasa nyaman karena tidak perlu cerita; juga membuat terapis seolah-olah menjadi paranormal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sampai suatu ketika saya berhadapan pada sebuah kasus yang tidak dapat diatasi oleh berbagai jurus yang saya kuasai. Jurus-jurus yang dipakai bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru. Dalam kebingungan yang amat sangat, munculah kata ‘Why’ di depan pertanyaan saya. Kali ini ‘Why’ nya memberikan makna baru. Kata ‘Why’ yang bukan memancing banyak alasan yang berujung pada pembenaran yang semakin kuat, melainkan penemuan awal dari sumber masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Pengasuh menjadi tombol kenyamanan bagi Sang Anak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika guru memulai pertanyaan dengan “How” dalam mengatasi kasus tersebut, maka cepat atau lambat akan muncul perasaan frustasi. Apalagi jika menggunakan sebuah metode yang menyarankan untuk memisahkan Si Anak dengan Sang Pengasuh sampai Si Anak terbiasa dengan lingkungan; yang belum tentu cocok diterapkan pada kasus ini. Pertanyaannya adalah mau sampai berapa lama Si Anak dibiarkan menangis terus menerus dan malah memperkuat perasaan tidak nyaman tersebut?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ketika guru memulai dengan pertanyaan ‘Why’ – Mengapa Si Anak terlihat mengalami perubahan sikap yang drastis hanya dengan munculnya Sang Pengasuh? Maka para guru mulai mencari tahu apa yang kira-kira terjadi di rumah Si Anak sehingga munculnya perilaku tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tidaklah mengherankan bagi guru ketika mengetahui gaya komunikasi antar orangtua dari Si Anak yang menyebabkan anak menjadi tidak nyaman. Dan secara kebetulan Sang Pengasuhlah yang muncul sebagai “pelindung” serta memberikan rasa aman dan nyaman.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ketika kita mengetahui ‘Why’ yang berlandaskan pada <em>Attitude</em>, maka “How” yang mewakili Metode dan Teknik akan muncul dengan sendirinya. Mungkin metode dan teknik tersebut tidak akan Anda temukan di buku NLP yang <em>bestseller </em>sekalipun. <em>Why? Because you understand THE ATTITUDE!</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pertanyaan :</span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Manakah yang lebih baik; anak lengket dengan pengasuh atau dengan kedua      orangtuanya? Jika orangtua belajar rahasia dari pengasuh yang berhasil      membuat lengket anaknya, dapatkah orangtua melakukan hal yang sama?<script type="text/javascript">
var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));
</script><br />
<script type="text/javascript">
var pageTracker = _gat._getTracker("UA-5302962-1");
pageTracker._trackPageview();
</script></span></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #9 Adu Jurus di hari pertama sekolah – Break Pattern</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=26</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=26#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 16:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Anita pusing tujuh keliling dengan ulah anaknya yang paling bungsu. Sudah hampir seminggu ini Toni masih menangis terus di sekolahan. Jadi serba salah. Ditinggal anak menangis. Tetap di sekolahan, Anita jadinya tidak bekerja. Selama ini Toni memang lebih banyak diasuh oleh neneknya setelah beberapa pengasuh silih berganti terus karena tidak ada yang cocok.
Sudah dicoba dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anita pusing tujuh keliling dengan ulah anaknya yang paling bungsu. Sudah hampir seminggu ini Toni masih menangis terus di sekolahan. Jadi serba salah. Ditinggal anak menangis. Tetap di sekolahan, Anita jadinya tidak bekerja. Selama ini Toni memang lebih banyak diasuh oleh neneknya setelah beberapa pengasuh silih berganti terus karena tidak ada yang cocok.</p>
<p>Sudah dicoba dengan minta bantuan Sang Kakak yang umurnya berselisih  3 tahun untuk menemani, tapi Sang Adik malah terus memeluk kakaknya. Jika coba dilepas, malah Sang Adik meronta-ronta dan menendang kesana kemari.</p>
<p>Anita mencoba mengingat-ingat pengalaman pertama ketika kakaknya yang sulung bersekolah. Sepertinya nangisnya hanya setengah hari setelah itu semua berjalan lancar-lancar saja.  Mengapa Si Bungsu ini jadinya lebih lama? Kalau keadaannya tidak berubah dalam satu-dua hari ini atau lebih baik Toni jangan di sekolahkan dahulu, ya? Pikiran Anita mulai menimbang-nimbang.<span id="more-26"></span></p>
<p><strong>Pattern atau Pola Perilaku<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong>Dalam NLP ada sebuah istilah yang dikenal dengan nama Pattern. Ibunda saya mengartikan pattern sebagai pola pada kain yang kelak dijahit menjadi baju. Sedangkan pattern yang dimaksud oleh saya di sini malah tidak ada hubungannya dengan baju, tetapi berhubungan dengan pola perilaku manusia. Saya dan Anda pun memiliki pola perilaku yang disebut dengan pattern tersebut.</p>
<p>Secara sederhana Pattern dapat diibaratkan seperti sebuah kebiasaan yang terbentuk dari kegiatan atau aktifitas yang sama dan dilakukan secara terus menerus. Misalnya : Seseorang yang selama bertahun-tahun selalu bangun pagi maka walaupun kurang tidur sekalipun ia dapat saja terbangun di pagi hari.</p>
<p>Atau dapat juga berupa sebuah respon tertentu atas sebuah kejadian atau hal yang tertentu juga dan terjadinya secara berulang-ulang. Misalnya : seorang atasan yang terbiasa menggunakan amarah jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencananya, maka perilaku di kantor pun dapat akan terbawa sampai ke rumah. Begitu pula sebaliknya yang terjadi.</p>
<p>Kedua hal tersebut di atas akan membentuk pola perilaku dari seseorang yang pada akhirnya dapat saja menjadi nasib hidupnya kelak. Oleh sebab itu, kenali dan waspadalah dengan pola perilaku diri yang  tidak membawa manfaat agar pola perilaku tersebut dapat segera diubah agar tidak merugikan kita di kemudian hari.</p>
<p><strong>Teknik Break Pattern<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong>Ada sebuah teknik yang sering dipakai oleh para praktisi NLP dalam melakukan terapi ataupun sesi coaching. Teknik ini dinamakan Break Pattern.</p>
<p>Jika seorang anak yang mengetahui bahwa untuk mendapatkan perhatian atau belaian dari orangtuanya adalah dengan menangis, maka ia akan sangat ahli sekali menggunakan tangisannya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan Sang Anak akan secara kreatif menggunakan tangisannya untuk menghindari situasi yang tidak disenanginya. Di tahapan ini anak telah belajar bagaimana memanipulasi orangtuanya. Kelak ia akan gunakan cara yang sama untuk memanipulasi orang lain suatu hari.</p>
<p>Anak-anak yang menangis di masa-masa awal sekolahnya sebetulnya merupakan hal yang biasa dan dapat dimaklumi karena masuk dalam lingkungan yang  baru dan asing. Yang menjadi masalah adalah jika perilaku masih tidak berubah juga setelah melewati suatu masa tertentu, maka  Anda perlu melakukan Break Pattern dalam kasus ini.</p>
<p>Caranya :</p>
<p>1.	Rubahlah perilaku Anda menjadi berlawanan dari kebiasaan Anda jika menanggapi anak yang menangis. Mis : Jika biasanya Anda mencoba membujuk terus dan mengelus-gelus kepalanya, maka sekarang biarkan guru di sekolah yang mengambil alih.</p>
<p>2.	Tetaplah persisten dengan perilaku Anda yang baru ini, karena kadang orangtua seringkali tidak tega melihat anaknya menangis terus dan lalu kembali lagi ke kebiasaan yang lama.</p>
<p>3.	Jika Anda cukup persisten dengan perilaku baru ini, maka anak pun akan belajar bahwa cara yang selama ini dia gunakan; tidak bekerja untuk hal ini.</p>
<p>4.	Sering-seringlah bertukar pikiran dan bertanya tentang bagaimana pihak sekolah menerapkan pola perilaku baru terhadap anak agar nilai-nilai yang ingin disampaikan tetap sama antara di rumah dan di sekolah.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em> Bagaimanakah pola perilaku berkomunikasi antara Anda dan pasangan atau anggota-anggota keluarga yang ada di rumah? Apakah Anda juga menggunakan pola komunikasi yang sama dengan anak Anda?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=26</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #8 Kisah Tulisan Jelek Sang Murid - Perceptual Positions</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=25</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 15:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu sedang dibagikan PR oleh Ibu Guru Sarina yang cantik. Suasana kelas VI B pun hening dan tertib. Masing-masing anak bergantian maju ke depan kelas mengambil buku PR mereka.
Tiba-tiba Ibu Guru Sarina berkata,&#8221;Ini buku siapa, ya? Oh, bukunya Riska. Aduh, Riska tulisan kamu kok jelek amat, ya? Anak laki-laki saja tulisannya lebih bagus dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu sedang dibagikan PR oleh Ibu Guru Sarina yang cantik. Suasana kelas VI B pun hening dan tertib. Masing-masing anak bergantian maju ke depan kelas mengambil buku PR mereka.</p>
<p>Tiba-tiba Ibu Guru Sarina berkata,&#8221;Ini buku siapa, ya? Oh, bukunya Riska. Aduh, Riska tulisan kamu kok jelek amat, ya? Anak laki-laki saja tulisannya lebih bagus dari kamu. Masa tulisan kamu seperti ini? Coba diusahakan menulis lebih bagus dari ini.&#8221; Sejenak terdengar tawa kecil dari beberapa temannya.</p>
<p>Riska yang diam-diam mengidolakan ibu gurunya yang pintar, cantik dan anggun itu tersentak kaget. Sejenak kepalanya jadi berkunang-kunang dan butir-butir peluh mengalir deras dari dahinya. Berpuluh-puluh pertanyaan berputar-putar di atas kepalanya yang pening seketika begitu mendengar komentar lantang Bu Guru Sarina di depan kelas.<span id="more-25"></span></p>
<p>&#8220;Kok, Ibu Sarina tega bicara keras-keras begitu di depan semua teman-temanku. Mengapa ia tidak diam-diam memberitahukan padaku sepulang sekolah, ketika teman-teman lain sudah tidak ada?”</p>
<p>&#8220;Kok, baru sekarang sesudah tahun kedua belajar, Ibu Sarina menyadari bentuk tulisanku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tulisanku begitu jelek? Apa yang harus kulakukan supaya tulisanku bagus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa anak lain semua tulisannya bagus-bagus, buktinya dari 50 anak kelas ini hanya aku yg disebutkan keras-keras di depan kelas&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekilas dari sudut matanya melihat beberapa anak sepertinya sedang menertawakan dirinya. Seluruh sisa pelajaran hari itu sudah tidak terdengar lagi di telinga kecil Riska. Ketika akhirnya bel pulang sekolah berbunyi dan doa pulang selesai diucapkan, Riska bergegas keluar dari ruang kelas.</p>
<p>Sepanjang perjalanan pulang, ia merasa amat sedih dan berkecil hati. Wajah Ibu Guru Sarina yang begitu ia idolakan dan teman-teman sekelas yang mencibir di kepalanya berganti-ganti memenuhi kepalanya.</p>
<p>Setiba di rumah, ia segera melesat naik ke kamarnya dan duduk di meja belajar kecilnya. Lalu, menarik sebuah buku. Entah di buku bekas apa, ia mulai menulis di halaman belakang itu. Ia menulis apa saja yang bisa ia tulis dengan sebaik-baiknya dan serapi-rapinya. Tapi apa daya, tulisannya tetap saja tidak bisa seindah tulisan Merina yang indah ataupun Glenn yang begitu rapi dan teratur. Karena sangat marah dan kecewa, Riska mencoret-coret seluruh tulisan tangan yang sudah dilatihnya tadi sambil terus menangis.</p>
<p>Tidak pernah ia ketahui; mungkin juga Ibu Sarina, bahwa bentuk tulisan tangan seseorang merupakan ciri dari orang tersebut dan sangat khas. Sulit sekali untuk merubahnya lagi jika sudah terbentuk.</p>
<p>Yang ia tahu, ia merasa bersalah atas tulisannya yang jelek. Ia begitu kecewa, marah dan membenci dirinya sendiri. Juga Ibu Sarina; ibu guru yang selalu dihormati dan diidolakannya.</p>
<p><strong>Perceptul Positions : Kunci memahami orang lain</strong></p>
<p>Kisah di atas bukanlah sebuah cerita rekaan melainkan sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi puluhan tahun yang lalu terhadap orang yang sangat saya kenal. Dan kisah-kisah yang mirip seperti ini masih saja terjadi hingga hari ini dan terus melukai perasaan banyak anak di seluruh negeri ini. Akibat dari perasaan luka tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan boleh menjadi sebuah <em>believed system</em> bagi dirinya. Dapat menjadi <em>believed system</em> yang bermanfaat atau malah menjadi sesuatu yang mensabotase dirinya untuk maju.</p>
<p>Selaku orangtua, kadang kita ingin melindungi ataupun memberikan yang terbaik bagi putera-puteri tercinta, hanya sayangnya maksud yang baik tersebut malah seringkali diterjemahkan sebaliknya oleh anak-anak kita.</p>
<p>Himbauan untuk rajin dan giat belajar dari orangtua diterjemahkan menjadi pengekangan dan pengukungan oleh anak-anak. Kritikan atau masukan tentang penampilan anak di atas panggung diterjemahan oleh anak sebagai bentuk tidak adanya penghargaan atas usaha anak.</p>
<p>Dalam banyak kesempatan, baik di seminar ataupun pelatihan tentang pengasuhan anak, saya selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dan seringkali pula saya tidak mau memberikan jawaban secara langsung, melainkan saya persilahkan sang penanya untuk ke depan forum dan meminta seorang sukarelawan lainnya untuk menemani. Apa yang kami lakukan di depan forum? Berlatih Perceptual Positions!</p>
<p><strong>Caranya :</strong></p>
<p>1.    Kami berbagi peran sebagai Orang ke-1, Orang ke-2 dan Orang ke-3.</p>
<p>2.    Contoh : Sang Penanya sebagai orang pertama (Orangtua), Sang Sukarelawan sebagai orang kedua (Anak) dan saya sebagai orang ketiga (Pengamat)</p>
<p>3.    Saya meminta Sang Penanya memperlihatkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan anaknya untuk sebuah masalah “X” dan menunjukan juga bagaimana anaknya merespon terhadap gaya komunikasinya.</p>
<p>4.    Sang Sukarelawan (Orang ke-2) memperhatikan dan meniru gaya anaknya merespon sampai semirip mungkin. Sang Penanya yang akan memberikan feedback agar kepada Orang ke-2 agar dapat meniru gaya komunikasi anaknya.</p>
<p>5.    Setelah sudah sesuai, maka kami masuk ke sesi pertama : memainkan drama komunikasi Orangtua (Orang ke-1) dengan Anak (Orang ke-2). Saya sebagai Orang ke-3 hanya bertugas mengamati dan memberikan feedback agar drama menjadi tampak lebih nyata.</p>
<p>6.    Sesi kedua, kami semua bertukar peran. Orang ke-2 kali ini menjadi Orang ke-1 (Orangtua), Saya menjadi Orang ke-2 (Anak), lalu Orang ke-1 menjadi Orang ke-3 (Pengamat). Lalu kami ulangi lagi drama dengan jalan cerita yang sama persis seperti sesi pertama. Orang ke-3 akan memberikan feedback jika masih ada yang belum sesuai.</p>
<p>7.    Sesi ketiga, kembali semua orang bertukar peran ke peran yang belum diperankan sebelumnya.</p>
<p>Walau standar prosedur yang lengkap adalah sampai sesi ketiga, tetapi kadang baru sampai pada sesi kedua saja (jika semua syarat dan ketentuan dilakukan dengan benar. Red.) Sang Penanya akan tercenung dan langsung membuat pernyataan bahwa dia akan belajar untuk lebih memahami anaknya. Yang lebih ajaib lagi adalah para penonton yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh jalannya latihan; pada sesi pertama saja sudah banyak yang memahami apa yang sedang terjadi.</p>
<p>Akhirnya pada sesi penutupan dalam setiap pelatihan kami diambil alih oleh para penonton yang berlomba-lomba ingin sharing. Hidup mendadak menjadi lebih indah daripada biasanya&#8230;.</p>
<p><em>Pertanyaan :</em></p>
<p>Dalam berbagai kesempatan berkomunikasi baik dengan orang lain; anak ataupun dengan pasangan. Pernahkan kita mencoba memahami makna apa yang ingin mereka sampaikan? Selamat berlatih Perceptual Positions!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #7 Cara Menjinakan Anak Bandel Nakal</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=21</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Adalah seorang Bapak Victor pemilik Wood Camp; outbound khusus anak-anak. Baru-baru ini ketika dalam kunjungan terakhir di kota Bandung. Di sela-sela sebuah acara bersama dengan beliau. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan tentang team bola basketnya jaman SMA dahulu. Teamnya ini sukar sekali dikalahkan oleh lawan-lawannya. Apa rahasianya? Rahasianya adalah Heart to Heart Communication Strategy.
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah seorang Bapak Victor pemilik <em>Wood Camp</em>; outbound khusus anak-anak. Baru-baru ini ketika dalam kunjungan terakhir di kota Bandung. Di sela-sela sebuah acara bersama dengan beliau. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan tentang team bola basketnya jaman SMA dahulu. Teamnya ini sukar sekali dikalahkan oleh lawan-lawannya. Apa rahasianya? Rahasianya adalah <em>Heart to Heart Communication Strategy.</em></p>
<p>Dalam setiap pertandingan basket, strategi teamnya Pak Victor hampir tidak pernah dapat ditebak oleh lawan-lawannya. Karena semua pemain dalam team dapat mendadak berganti menjadi posisi apa saja dan tanpa harus menunggu komando seseorang. Semua berjalan dengan begitu alami.<span id="more-21"></span></p>
<p>Bagaimana cara kerjanya? Apakah mereka menggunakan sejenis “ilmu”? Seperti apa cara mereka melatihnya? Sambil tertawa mengenang masa lalunya, Pak Victor menceritakan bagaimana mental team lawan sering jatuh karena melihat teamnya Pak Victor jarang sekali terlihat berlatih di lapangan. Mereka malah lebih sering terlihat hang out bersama, makan-makan, nonton film hingga berkemah bersama. Menggoda team lawan yang sedang latihan pun tidak kalah seringnya. Pokoknya semuanya serba bersama. Sementara team lawan frekwensi berlatihnya di lapangan lebih sering dibandingkan mereka.</p>
<p>Ternyata acara ngumpul bersama tadi itulah salah satu cara mereka berlatih. Karena frekwensi bertemunya sangat sering sehingga mereka menjadi lebih saling kenal satu sama lain. Mereka ter”<em>influence</em>” satu sama lain. Mereka ter”<em>pacing-leading</em>” hingga ter”<em>anchor</em>” satu dengan lainnya. Satu untuk semua dan semua untuk satu menjadi motto yang gak basa-basi. Masing-masing telah menjadi “<em>win-win solution</em>”.</p>
<p>Bukankah sebuah keluarga juga sama halnya seperti sebuah team yang terdiri dari anggota-anggota yang memiliki tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Hanya yang membedakannya adalah jenis permainan yang dimainkan. Bukan bola basket atau sepakbola; melainkan permainan KEHIDUPAN.</p>
<p><em><strong>Pacing dan Leading</strong></em></p>
<p>Kata <em>Pacing</em> dan <em>Leading </em>jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah menyamakan atau mengikuti dan Leading adalah memimpin. Ada sebuah alat dalam bidang musik yang dapat mengambarkan hal ini yaitu Garpu Tala. Dalam radio disebut menyamakan frekwensi. Dalam NLP, istilah <em>pacing </em>dan <em>leading</em> digunakan untuk menjelaskan sebuah hubungan komunikasi. <em>Pacing</em> berarti sebuah proses dalam menyamakan agar dapat memiliki pemahaman yang sama dan mengikutinya (<em>Leading</em>).</p>
<p>Cukup banyak metode dan teknik yang ditemukan dan diajarkan oleh para pakar NLP dunia tentang hal ini. Akan tetapi, sayangnya metode dan teknik tersebut malah terlihat seperti pemain pantomin yang sedang break dance ketika dipraktekan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?</p>
<p>Praktisi NLP seringkali terjebak dalam langkah-langkah metode dan teknik yang dipelajarinya, sehingga situasi dan keadaan sekeliling praktisi yang seharusnya perlu diperhatikan menjadi terabaikan. Karena terlalu fokus pada metode dan tekniknya. Ini berakibat pada penyikapan dan pengaplikasinya menjadi tidak berkembang. Tidaklah mengherankan bila sampai ada praktisi yang kecewa dan kemudian mencibir teknik-teknik NLP.</p>
<p>Dalam lingkungan keluarga, teknik <em>pacing </em>dan <em>leading </em>ini harusnya dapat menyelamatkan banyak kehidupan keluarga jika orangtua tidak memaksakan anaknya untuk mengerti orangtua. Andai saja, boleh menyarankan bila para orangtua menyadari bahwa mereka pernah menjadi anak, sedangkan anak belum pernah menjadi orangtua.</p>
<p>Pernahkah orangtua berusaha menyamakan (<em>pacing</em>) dahulu ke anaknya yang mogok belajar, yang lebih senang bermain game. Lalu belajar memahami mengapa anaknya berprilaku seperti itu? Atau lebih memilih langsung marah besar ke anak dan memberi predikat “anak bermasalah” yang tidak tahu diri; disuruh belajar malah main. Apa ngak tahu bahwa bapak atau ibunya ingin dia menjadi anak yang pintar? Apa ngak tahu kalau orangtuanya setengah mati mencari uang guna menafkahinya? Dasar anak bandel nakal! Maka dibawalah anak ini ke psikiater karena anaknya “bermasalah”. Sebetulnya siapa yang “bermasalah”?</p>
<p><em><strong>Anchoring</strong></em></p>
<p>Kata <em>Anchor/Anchoring</em> jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebagai jangkar atau sauh. Fungsi dari jangkar atau sauh ini adalah untuk “memegang” kapal agar tidak terbawa arus laut. Dalam NLP, kata ini dapat berarti “tombol pemicu” dalam memanggil pikiran dan perasaan tertentu yang telah “terjangkar” dalam diri seseorang sebelumnya.</p>
<p>Sekarang mari kita bayangkan kembali kondisi cerita di atas. Apa jadinya anak yang telah diberi cap “bermasalah” tadi oleh psikiater, tabib atau malah dukun. Dan orangtuanya malah ikut-ikutan memberi vonis yang sama? Padahal siapakah orang yang paling mengenal Sang Anak jika bukan orangtuanya? Sungguh kasihan, Sang Anak yang tadinya netral, kini telah di anchoring oleh lingkungannya dengan “nakal”.</p>
<p>Padahal <em>anchoring</em> itu sendiri adalah netral. Karena sifatnya lebih seperti sebuah “tombol pemicu”. Tombol ini dapat berupa : sebuah suara, sebuah gambar, sebuah rasa, sebuah aroma dan sebuah belaian atau sentuhan. Tinggal bagaimana Anda meng”jangkar” salah satu atau kelima hal tersebut pada sebuah pikiran dan perasaan tertentu. Pilihan ada pada tangan Anda…</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>1. Seberapa banyak Anda sebagai orangtua melakukan <em>pacing </em>dan <em>leading </em>dalam menghadapi anak Anda?</p>
<p>2. Hal apa yang paling sering dilakukan Anda selaku orangtua dalam meng<em>anchoring </em>anak Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #6 Cara Hebat Memikat Anak Makan</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=19</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 14:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Bayangan indah dalam benak Nico di libur panjang lebaran kali ini yang rencananya bakal diisi dengan menonton koleksi DVD terbarunya buyar seketika. Penyebabnya adalah fakta bahwa pembantunya mudik, rumahnya yg tiba-tiba laku sesaat sebelum lebaran dan disusul dengan jadwal pindahan dan renovasi rumah baru yang tentu saja harus selesai sebelum kelahiran anak keduanya, istri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangan indah dalam benak Nico di libur panjang lebaran kali ini yang rencananya bakal diisi dengan menonton koleksi DVD terbarunya buyar seketika. Penyebabnya adalah fakta bahwa pembantunya mudik, rumahnya yg tiba-tiba laku sesaat sebelum lebaran dan disusul dengan jadwal pindahan dan renovasi rumah baru yang tentu saja harus selesai sebelum kelahiran anak keduanya, istri yang sedang hamil tua plus Juniornya yang baru saja merayakan ulang tahun ke-2 nya, yang tentu saja sedang aktif-aktifnya.</p>
<p>Tiba-tiba saja Nico dituntut menambah perannya dari seorang Super Dad dan Super Husband dengan peran baru ‘Super Nanny’ karena mendadak jadi pengganti pengasuh membantu istrinya yang sedang hamil tua dalam mengasuh Si Junior, Super ‘Mandor’ dalam mengawasi tukang-tukangnya dan Super ‘Movers’ dalam mengemasi barang-barang pindahan dalam waktu sesingkat mungkin.<span id="more-19"></span></p>
<p>Yang seringkali membuatnya sakit kepala adalah bilamana tugas-tugas tersebut tiba-tiba membutuhkan tindakan segera di saat yang hampir bersamaan. Entah apa hikmah di balik semua ini buat seorang Nico yang tentu saja memiliki keterbatasannya sendiri.</p>
<p>Ada kalanya ia mesti berkejar-kejaran dengan si Junior untuk mandi sore, sementara istrinya minta tolong di dapur karena membutuhkan bantuannya mengangkat tabung gas dan menuang galon air minum. Baru saja dia selesai menyapukan tissue pembersih ke galon air minum, sekonyong-konyong sang kepala tukang muncul di depan pintu minta uang untuk membeli bahan bangunan, sementara uang kontan di tangan tidak mencukupi, sehingga ia harus bergegas ke ATM dahulu.</p>
<p>Atau, ketika sedang sibuk mengemasi barang-barang pindahan, tiba-tiba tukangnya menelepon memberitahukan bahwa ada saluran air yang tidak beres sehingga perlu membongkar ubin saat itu juga. Mau tak mau Nico mesti bergegas ke lokasi rumah baru mengecek masalah tersebut. Pada saat yang bersamaan istrinya sudah kelelahan karena membantunya mengemasi barang pindahan dan perlu beristirahat segera, sementara, waktu makan si Junior sudah tiba. Ini berarti mau tak mau, tugas Nico lah untuk menyuapi anaknya makan.</p>
<p>Kalau bagi sebagian besar orangtua, anak yang sulit dibujuk untuk tidur merupakan masalah besar, sebaliknya bagi Nico. Sebagai pekerja yang sering dikejar deadline, ia sudah terlatih menjadi seorang ‘Batman’. Tantangan terberat dan yang menjadi ‘Fear Factor’ Nico justru adalah ketika ia mesti menyuapi anaknya makan.</p>
<p>Anaknya sulit sekali membuka mulutnya untuk makan. Kadang kala tidak jelas siapa menyuapi siapa, karena seringkali anak berebut sendok dengan bapak. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk menyelesaikan makan siang atau makan malamnya.</p>
<p>Hingga suatu saat, Nico tiba-tiba teringat dan menyadari bahwa pengasuh Junior selalu menggunakan dua buah sendok ketika menyuapi anaknya makan. Rupanya tanpa sadar Sang Pengasuh memanfaatkan kondisi trance Sang Anak yang bermain-main dengan sendok dan makanannya. Ketika anak yang sedang trance dengan permainannya, maka pengasuh relatif lebih mudah meminta anak membuka mulut dan melahap makanannya tanpa perlawanan.</p>
<p><strong>Trance</strong></p>
<p>Bagi masyarakat awam kata trance ini masih asing dan seringkali mereka tidak dapat membayangkan apa yang dimaksudkan. Karena bunyi yang terdengar adalah “Trans”. Yang terbayangkan oleh mereka adalah angkutan umum – transport atau lemak yang berbahaya bagi tubuh – lemak trans.</p>
<p>Padahal yang dimaksudkan dengan trance di sini adalah suatu kondisi atau keadaan ketika pikiran manusia terfokus pada suatu aktifitas atau kejadian. Misalkan saat anda fokus pada tontonan di televisi; suara keramaian di sekeliling mendadak menjadi tidak terdengar. Nyata-nyatanya, mungkin istri atau suami Anda sudah beberapa kali memanggil-manggil nama Anda.</p>
<p>Pada saat trance, pikiran sadar manusia yang menjadi penyaring informasi menjadi lumpuh sesaat; sehingga informasi-informasi masuk ke dalam pikiran relatif tanpa disaring. Jangan heran jika ibu-ibu yang menonton sinetron bisa ikutan menangis terbawa cerita, meskipun mereka tahu itu hanyalah sekdedar lakon belaka.</p>
<p>Atau bapak-bapak yang ikutan menendang meja ketika sedang seru-serunya mengikuti pertandingan bola di televisi, meskipun mereka tahu bahwa tindakan mereka tidak akan secara langsung membantu terciptanya sebuah gol.</p>
<p>Kondisi trance ini tidaklah mewakili atau menunjukan suatu gambaran yang sifatnya baik ataupun buruk. Melainkan hanyalah sebuah keadaan netral yang dapat saja digunakan untuk tujuan yang bermanfaat atau disalahgunakan untuk tujuan yang tidak bermanfaat.</p>
<p>Bagi pelaku kejahatan, kondisi trance ini dimanfaatkan untuk menghipnotis korban untuk melakukan tindakan yang telah diprogram untuk kepentingan pribadinya. Bagi Therapis, kondisi trance ini dimanfaatkan untuk menolong kliennya memecahkan masalahnya. Bagi para orangtua yang mengerti menggunakannya, keadaan ini dapat dijadikan alat untuk menanamkan nilai-nilai dan prilaku yang bermanfaat bagi anaknya.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak lebih mudah masuk dalam keadaan trance dibandingkan dengan orang dewasa yang relatif membutuhkan waktu yang lebih panjang. Oleh sebab itu, Anda selaku orangtua perlu lebih berhati-hati terhadap segala tindakan ataupun ucapan di depan anak Anda. Karena apapun yang dilihat ataupun didengar oleh anak dalam keadaan trance, informasi tersebut akan masuk ke dalam pikiran anak dan menetap menjadi sebuah program yang kita tidak tahu kapan akan aktif bekerja.</p>
<p>Jika hanya sekedar meminta anak membuka mulut untuk disuapkan dengan makanan pada saatnya makan; mungkin hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Bagaimana jika dalam keadaan trance anak mendengar dan menyaksikan orangtuanya berselisih pendapat?</p>
<p><strong>Kisah dan Komentar Anda</strong></p>
<p>Apakah anda memiliki pengalaman yang unik dalam mengasuh anak? Kirimkan kisah dan komentar Anda. Jika anda mencantumkan alamat email; saya akan mengirimkan artikel “Mengenali kondisi trance pada anak dan bagaimana memanfaatkannya”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #5 Berdamai dengan Myoma, Cara indah selamatkan Ibu dan Bayi</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=18</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=18#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 10:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Nita semakin cemas ketika dokter kandungannya memperlihatkan gambar di USG yang menunjukan perkembangan myoma dalam kandungannya tumbuh lebih cepat daripada perkembangan bayinya.
“Bu, ada kemungkinan dokter perlu mengangkat myoma di semester ketiga kehamilan, bila pertumbuhan myomanya begitu besar hingga mengganggu pertumbuhan bayi ibu. Tapi bagaimanapun, itu hanya satu kemungkinan. Yang terpenting ibu harus tetap tenang, stress [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nita semakin cemas ketika dokter kandungannya memperlihatkan gambar di USG yang menunjukan perkembangan myoma dalam kandungannya tumbuh lebih cepat daripada perkembangan bayinya.</p>
<p>“Bu, ada kemungkinan dokter perlu mengangkat myoma di semester ketiga kehamilan, bila pertumbuhan myomanya begitu besar hingga mengganggu pertumbuhan bayi ibu. Tapi bagaimanapun, itu hanya satu kemungkinan. Yang terpenting ibu harus tetap tenang, stress dapat menjadi pupuk myoma juga.” Dokter mencoba menenangkan Nita yang terlihat cemas dan terpukul.</p>
<p>Sungguh ironis perasaannya saat ini dengan yang dirasakannya 3 bulan yang lalu dimana saat-saat terasa begitu indah dan mengembirakan ketika dokter menyatakan Nita positif hamil bayinya yang pertama setelah menunggu bertahun-tahun.<span id="more-18"></span></p>
<p>Benar saja; walaupun sudah mencoba menenangkan diri. Rasa cemas dan tertekan akan keselamatan bayi dan dirinya tetap saja menghantui di hari-hari sesudahnya. Hingga suatu hari tanpa sengaja, Nita mendapatkan forward sebuah email yang menceritakan bagaimana seorang pakar NLP membantu pemulihan kanker payudara ibunya dengan Presupposition NLP : Behind every behavior has a positive intention.</p>
<p><strong>Apa itu Presupposition?</strong></p>
<p>Dalam kerangka NLP, Presupposition adalah sebuah asumsi dasar yang ditetapkan dan “sengaja diyakini benar” untuk memudahkan membuat keputusan dan bertindak berdasarkan asumsi tersebut.</p>
<p>Mengapa saya memberi tanda kutip dalam kalimat “sengaja diyakini benar”? Karena presupposition ini tidak berlaku secara universal. Seorang praktisi NLP yang terlatih akan sangat berhati-hati sekali dalam menggunakan berbagai presupposition ini. Karena presupposition ini sebetulnya hanyalah “seperangkat alat”; bukanlah “sebuah aksioma” yang tidak dapat dibantahkan.</p>
<p>Presupposition : Behind every behavior has a positif intention</p>
<p>Dalam kasus di atas, secara bebas saya terjemahkan menjadi “Di balik setiap kesan yang muncul dalam tubuh memiliki tujuan yang bermanfaat”.</p>
<p>Dari data statistika dokter menyatakan bahwa 20% dari wanita usia produktif memiliki myoma dalam kandungannya. Bedanya adalah ada yang ukurannya tetap, sedang lainnya dapat tumbuh. Menjaga keseimbangan emosi merupakan kunci agar myoma tidak berkembang.</p>
<p>Tips :</p>
<p>Setelah mendapatkan informasi yang lebih mendetail dan menyadari bahwa keseimbangan emosi merupakan salah satu kuncinya, Nita kemudian membuat beberapa langkah :</p>
<p>1. Berdamai dengan myoma dengan menerima kehadiran myoma yang sudah tumbuh dalam kandungannya.</p>
<p>2. Mencari tahu apa tujuan yang bermanfaat yang ingin disampaikan oleh tubuh kepadanya melalui tumbuhnya myoma dengan teknik “6 step reframing”.</p>
<p>3. Melibatkan pasangan sebagai partner ketika melakukan teknik “6 step reframing”.</p>
<p>Hasilnya : Selain Ibu; Bayi pun membutuhkan perhatian dari Ayah dan lingkungan terhadap kehadirannya. Ayah tidak hanya cukup mengusap-gusap perut ibunya dan berbicara sekedarnya, Bayi pun membutuhkan komunikasi yang lebih mendalam dalam “rasa”.</p>
<p>Ketika Ayah dan Ibu lebih banyak berbicara dengan bayinya dan myoma juga. Secara bertahap, myoma berhenti tumbuh dan mengecil dari bulan ke bulan. Bayi pun tumbuh dengan baik dan normal.</p>
<p>Pada akhirnya Nita terpaksa harus dioperasi ketika melahirkan, tetapi bukan lagi dikarenakan oleh myomanya. Tetapi karena ada dua lilitan tali pusar pada leher bayinya.</p>
<p>Penyebabnya : Nita kurang tepat ketika berbicara dengan bayinya selama ini. “Hati-hati yah, nak. Kalau bermain-main dalam perut mama “jangan” sampai kelilit tali pusar, ya”. Nita lupa bahwa kata “jangan” hanya ada di kamus, tidak ada di dunia nyata <img class="wp-smiley" src="http://portalnlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";-)" /></p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>Jika bayi dalam kandungan saja membutuhkan perhatian dari kedua orangtuanya. Bagaimana bentuk perhatian Anda kepada anak-anak yang sudah Anda lahirkan?</p>
<p>PERHATIAN! Tulisan ini dibuat bukan bertujuan menggantikan pengobatan dari dokter, melainkan hanya sebagai pelengkap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=18</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #4 Cara cerdas mencerdaskan anak (dan) Anda.</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=17</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 05:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sekonyong-konyong pendingin udara di ruang konsultasi anak seolah tidak berfungsi sama sekali. Suasana pun semakin memanas ketika Pak Tikno dan Bu Tikno saling menuding satu sama lain. Mereka belum menemukan kata sepakat atas kesulitan belajar yang dialami oleh anak kembar mereka; Dino dan Doni yang masih duduk di sekolah dasar.
Pak Tikno merasa bahwa Dino mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekonyong-konyong pendingin udara di ruang konsultasi anak seolah tidak berfungsi sama sekali. Suasana pun semakin memanas ketika Pak Tikno dan Bu Tikno saling menuding satu sama lain. Mereka belum menemukan kata sepakat atas kesulitan belajar yang dialami oleh anak kembar mereka; Dino dan Doni yang masih duduk di sekolah dasar.</p>
<p>Pak Tikno merasa bahwa Dino mempunyai masalah belajar sehingga perlu ditanggani segera. Lain halnya dengan Bu Tikno yang sudah memastikan bahwa justru Doni lah yang mempunyai masalah belajar dan harus ditanggulangi secepatnya.</p>
<p>“Pak, saya lihat Dino mempunyai masalah dalam menyerap pelajaran. Saya sering sampai larut malam jika harus menemaninya belajar. Sedangkan Doni ketika saya mengajarinya cepat sekali mengertinya. Cukup diperlihatkan beberapa contoh, berikutnya dia tinggal ngikuti ‘in”, Ujar Pak Tikno sambil berusaha menenangkan dirinya.<span id="more-17"></span></p>
<p>“Mas, kamu ini tahu apa dengan masalah anak-anak. Saya yang setiap hari lebih sering di rumah pasti lebih tahu. Jelas-jelas yang bermasalah itu Doni. Lah, wong kemarin saya menemaninya membuat PR sampai pukul sebelas malam. Sampai cape saya jelas‘in. Sedangkan Dino sudah selesai sejak pukul delapan.”, Timpal Bu Tikno yang tidak dapat menerima pendapat suaminya.</p>
<p>Masing-masing mempunyai cerita, pengalaman dan argumen yang sama kuat dan sama meyakinkannya. Untuk mencegah masalah perdebatan yang semakin berlarut-larut, maka sebagai jalan tengah diadakanlah test modalitas bagi kedua orangtuanya sekaligus kedua anak kembar mereka.</p>
<p>Seperti yang sudah diduga sebelumnya, hasil menunjukan bahwa modalitas Pak Tikno dan Doni adalah sama yaitu dominan visual. Sedangkan Bu Tikno dan Dino menunjukan dominan auditory.</p>
<p><strong>Modalitas</strong></p>
<p>Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika kata “modalitas” ini muncul? Apakah Anda merasa ada hubungannya dengan salah satu istilah ekonomi? Permodalan?</p>
<p>Ya. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan bidang ekonomi, arti kata modalitas yang saya maksudkan memang menyerempet kata “modal” dalam istilah ekonomi. Modalitas dalam konteks NLP adalah Representational System atau biasa disingkat dengan Rep System. Ini merupakan modal yang diberikan Tuhan kepada manusia berupa indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan.</p>
<p>Modalitas atau Rep System ibarat saringan bagaimana seorang manusia memaknai suatu kejadian di luar sebelum dimasukkan ke dalam pikirannya. Untuk memudahkan pemahaman, mari kita gunakan istilah VAKOG – Visual (penglihatan), Auditory (pendengaran), Kinestetik (perabaan), Olfactory (penciuman), Gustatory (pengecapan).</p>
<p>Dalam setiap manusia semua unsur VAKOG ini berfungsi sama baiknya. Tidak ada unsur yang lebih baik dari unsur lainnya. Hanya pada sebagian orang, ada bagian-bagian yang lebih dominan dan bagian lainnya kurang dominan.</p>
<p>Misalkan, orangtua yang dominan Visual dalam mengajarkan anaknya belajar kecenderungannya akan lebih sering dengan menunjukan atau memperlihatkan bahan pelajaran.</p>
<p>Sedangkan anak yang memiliki dominan Auditory, tentu akan lebih nyaman dengan suara atau dibacakan bahan pelajarannya; tidak hanya sekedar ditunjukan.</p>
<p>Atau anak yang dominan Kinestetik, di mana gaya belajarnya adalah menggoyang-goyangkan kaki atau memutar-mutar penanya harus berhadapan dengan orangtuanya yang dominan visual, dimana akan merasa “terganggu” dengan “gerakan-gerakan” Sang Anak.</p>
<p>Anda dapat gambarkan dan ceritakan apa yang akan terjadi jika orangtua tidak menyadari modalitas dirinya dan modalitas anaknya? Yang terbayang adalah antara orangtua dan anak saling memberi label “bermasalah” antar satu dengan lainnya. Yang terdengar adalah saling berbicara dengan suara keras antar yang satu dengan lainnya ketika belajar. Titik temu sebetulnya dapat diatasi dengan saling mengenal modalitas masing-masing dan belajar bagaimana menyeimbangkannya sehingga menjadi tidak terlalu dominan.</p>
<p><strong>Tips</strong></p>
<p>Perhatikan dan amati anak anda ketika mereka sedang berbicara atau ketika mereka sedang beraktifitas. Kata kerja apa yang paling sering mereka gunakan ketika berkomunikasi dengan anda dan aktifitas apa yang paling disukai mereka.</p>
<p>Anak dengan dominan Visual, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : melihat, memandang, menunjukan, warna, gelap terang, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya menggambar.</p>
<p>Anak dengan dominan Auditory, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : mendengar, bertanya, menjawab, berisik, suara, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya bermain musik.</p>
<p>Anak dengan dominan Kinestetik, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : merasakan, nyaman, memegang, menyentuh, membawa, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya kegiatan yang banyak gerak.</p>
<p>Untuk Olfactory dan Gustatory biasanya dimasukan dalam Kinestetik untuk menyederhanakan pemahaman.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Apakah Anda mengetahui modalitas yang dominan dalam diri Anda? Pasangan Anda? Dan anak Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #3  Awas Smack Down! = Waspadai pola modelling anak-anak!</title>
		<link>http://superparenting.org/?p=15</link>
		<comments>http://superparenting.org/?p=15#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 12:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://superparenting.org/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya.
Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya.</p>
<p>Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan tapi pasti, tayangan kekerasan mulai berkurang di semua TV swasta. Ada yang mengurangi jam tayang, ada yang memindahkan jam tayang, ada pula yang sama sekali menghilangkannya. Telah terbayang, penghargaan yang akan diterimanya besok lusa atas kegigihan dan konsistensinya melawan kekerasan pada anak-anak.</p>
<p>Tiba-tiba, di tengah kemacetan; pandangan matanya terantuk pada sekumpulan bocah-bocah yang tengah mengerubungi sesuatu. Sepertinya sebuah perkelahian. Ada yang aneh. Mengapa bocah-bocah itu begitu gegap gempita dan ceria?<span id="more-15"></span></p>
<p>Terkadang mereka ikut berteriak dan kadang beberapa di antara mereka menirukan gerakan berkelahi. Dinar merasa penasaran dan ketika mobilnya bergerak mendekati kerumunan di pinggir jalan itu, ia melihat penjual VCD bajakan sedang tengah memutar film Smack-down! Ia terhenyak. Sejenak kepalanya terasa pusing.</p>
<p>Mengapa masih ada saja yang melakukan itu? Padahal tayangannya sudah sangat berkurang di televisi. Malah sekarang muncul di jalanan.</p>
<p>Belum hilang rasa pusingnya, ketika melewati lampu merah, ia terkena macet lagi dan mau tidak mau, kembali ia harus melihat pemandangan “menyeramkan” lagi : kumpulan anak-anak di depan penjual games playstation yg judul &amp; gambarnya lagi-lagi tentang smack-down.</p>
<p>Dinar merasa begitu lemas. Ia tidak mau melihat lagi. Ada rasa sakit. Seperti dikhianati. Ia memutuskan memacu mobilnya cepat-cepat. Ia ingin cepat tiba di rumah dan melihat putera-puteranya yang manis dan santun memeluk dan menyambutnya.</p>
<p>Tiba di ujung gang besar, Dinar mendengus kesal. Jalan ditutup. Entah ada apa. Sekilas ia melihat tumpukan janur yang belum dijalin.</p>
<p>“Mungkin ada yang mau menikah”.</p>
<p>Ia bergegas mengambil laptop dan tas kerjanya. Lalu berjalan cepat menuju rumahnya. Ada sebuah rumah yang tampak ramai. Pagarnya terbuka dan di depan pintu dipenuhi sandal-sandal kecil.</p>
<p>“Oh, apakah perpustakaan mini? Kemarin belum ada”.</p>
<p>Penasaran, ia langkahkan kaki ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia akan mengajak Bayu dan Dimas ke situ besok. Setibanya di dalam, lagi-lagi ia terkesiap. Bukan perpustakaan mini yang rapi dan tenang. Tapi sebuah tempat penyewaan playstation yang gaduh dan riuh. Ada anak yang bermain, ada yang hanya menonton. Tujuh dari sepuluh pemain memilih film permainan gulat : smack-down!</p>
<p>Kali ini Dinar tak tahan lagi. “Bencana” itu tidak menjauh. Malah kini makin mendekati anak-anaknya. Hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Ia mundur dan menutup pintu dengan lemah. Langkahnya gontai, matanya basah. Apa lagi yang harus kulakukan? Berminggu-minggu kuhabiskan waktu berkampanye, melobby sana sini, berbicara di seminar-seminar besar dan kecil. Bayu dan Dimas pun terpaksa harus merelakan waktu mereka bersama bundanya banyak tersita.</p>
<p>“Demi Bayu, Dimas dan semua anak Indonesia”, begitu selalu kata Dinar.</p>
<p>Kedua jagoannya bisa diberi pengertian, tapi Mas Danu; suaminya sudah beberapa kali mengultimatumnya, “Ini pertama dan terakhir kamu sesibuk ini. Lagipula, apa sih salahnya dengan gulat smack-down? Kan tidak semua orang jadi korban. Menurutku malah bagus, anak laki-laki harus nonton, supaya tidak jadi gemulai. Lagipula, apa sih yang membuat kamu begitu yakin kalau kamu bisa mengubah keadaan?”</p>
<p>Sesulit inikah untuk melindungi buah hati tercinta Anda?</p>
<p><strong>Modelling</strong></p>
<p>Apa yang seketika muncul dalam benak Anda jika mendengar kata Modelling? Ibu-ibu membayangkan wanita bertubuh langsing yang selalu diidam-idamkan. Mungkin sebagian kaum pria langsung terbayang tayangan Fashion TV. Kalau Anda, apa yang muncul dalam benak?</p>
<p>Modelling yang saya maksudkan di sini tidak ada hubungan dengan dunia fashion ataupun bintang iklan manapun. Modelling yang maksud di sini adalah kemampuan meniru.</p>
<p>Anda yang telah memiliki anak tentu masih ingat ketika awalnya mengajari mereka berbicara. Walaupun anak Anda mengeluarkan suara yang jauh daripada mirip “Papa” atau “Mama”, Anda tetap konsisten dengan “Pa.. Pa..” atau “Ma.. Ma..” berulang kali tanpa bosan-bosannya. Sampai ketika anak Anda berhasil menyebutkan dengan benar; berarti anak Anda sudah berhasil memodel Anda.</p>
<p>Berbeda dengan pikiran orang dewasa yang daya kritisnya sudah matang, pikiran anak-anak hampir selalu dalam keadaan imajinatif. Apa pun yang mereka lihat, dengar dan rasakan akan cepat sekali ditiru atau dimodel. (baca juga NLP for Parenting #1)</p>
<p>Bayangkan bila mereka menonton tayangan di televisi tanpa didampingi oleh orang dewasa di sampingnya. Apa jadinya tontonan kekerasan yang sebetulnya ditujukan untuk hiburan orang dewasa yang sebetulnya penuh dengan trik muslihat kemudian dianggap benar oleh anak-anak.</p>
<p>Ketika mereka dilarang meniru adegan tersebut malah menimbulkan tanda tanya bagi anak-anak; bagi mereka tindakan tersebut dianggap sebagai bermain. “Toh, di televisi orang-orangnya masih dapat bangun dan berteriak-teriak lagi. Kenapa sih papa mama selalu menghalangi kesenangan saya”, begitu yang ada dalam benak anak-anak.</p>
<p>Stasiun televisi sudah memasang tanda BO, bahkan kini ditulis “Bimbingan Orangtua” pada sudut televisi Anda. Tanda itu bukanlah HIASAN semata,melainkan PERINGATAN!</p>
<p><strong>Tips :</strong></p>
<p>Dampingilah selalu buah hati dalam setiap tontonannya agar mereka mendapatkan informasi yang benar dari Anda; selaku orangtuanya. Penjelasan dari Anda seperti layaknya sebuah program antivirus yang melindungi komputer dari serangan virus. Sama halnya dengan antivirus yang harus diupdate setiap saat. Mendampingi anak menonton pun harus dilakukan sesering mungkin, bukan hanya sesaat.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Berapa jam sehari anak Anda duduk di depan televisi? Jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://superparenting.org/?feed=rss2&amp;p=15</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
